Suasana sore dengan langit berwarna oranye keunguan menambah visual bagaimana indahnya dunia yang dilukis oleh Tuhan. Waktu berjalan lebih lama dari biasanya, Issara termenung. Terhanyut dalam pikiran yang membawanya meneteskan air mata.
Hanya satu kontak yang terbesit dibenaknya, Ethan. Ia menekan ikon telepon agar mempercepat menghubungi sang empu.
“Yaa, Issa, kenapaa?” Suaranya sangat berat.
“Ethan, kamu bisa kesini gak? Atau, temenin aku beli ice cream deh. Free gak?”
“Kamu nangis ya, Ssa? Yaudah bentar, aku kesana. Shareloc aja, jangan nangis dulu nanti aku temenin.”
“Udah aku shareloc, aku gak nangis kok. Lagian kalo aku nangis juga ga mau depan kamu, soalnya malu.”
“Kok gitu sihh? santai aja kali Ssa. Aku otw ya, tungguin jangan kemana-mana.” “Iyaaa, hati-hati Than.” Kemudian sambungan telepon itu Issara matikan sepihak.
Sekitar sepuluh menit Issa menunggu, akhirnya Ethan datang membawa sebuah jaket yang ia simpan di paperbag.
Pemuda itu turun, membawa paperbag berisi jaket dan menghampiri Issa. Ia duduk disebelahnya, tanpa mengucapkan sepatah kata Ethan memberikan paperbag tersebut.
“Apa ini?” Issa membukanya.
“Gak dingin emang Ssa?”
“Dikit doang, tapi dingin, tapi enggak.”
“Apa sih ga ngerti, tapi ya udah pake aja.” Issara mengangguk kemudian memakai jaket tersebut, aromanya menyeruak. Aroma parfum Ethan yang menjadi kesukaannya.
“Parfum apa?”
“Wangi ya?”
“Iyaa, tapi ini strong banget tau. Ada yang lebih soft ga? kayak manis gitu?”
“Ada, nanti kita cari yaa.”
Hening, hingga Issa membuka suara untuk memulai obrolan. “Ethan, aku mau cerita boleh?” “Boleh, aku dengerin sini.”
“Tapi aku takut nangis, kalo aku nangis jangan liatin aku ya.”
“Iya enggak. Gak akan diliatin, gak akan diejek.”